Menu

Tampilkan postingan dengan label Remaja. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Remaja. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 21 Agustus 2010

Mitos tentang Sex di Kalangan Remaja

Rupanya di jaman modern sekarang ini, masih ada saja yang percaya dengan mitos-mitos mengenai seks, terutama di kalangan remaja. Padahal datangnya dari mulut ke mulut dan belum tentu benar. Oleh karena itu, jangan asal percaya, apalagi dipraktekkan. Biar tuntas dan jelas, akhirnya Jurnal Bogor bertanya langsung dengan Pakar Seks and Drugs Dr. Bona Simanungkalit, DHSM, M.Kes. Berikut bocorannya.


Mitos 1:

Setiap hubungan seks untuk pertama kalinya selalu ditandai dengan keluarnya darah dari vagina.

Fakta: Tidak selalu hubungan seks yang pertama kali itu terjadi perdarahan karena banyak hal yang mempengaruhinya. Apakah ada benda yang mampu masuk dan menembus liang vagina dengan kekerasan yang cukup? Apakah masih ada hymen atau selaput dara yang utuh? Serta bagaimana elastisitas dari selaput dara tersebut? Kalau selaput daranya sangat elastis kemungkinan besar tidak akan terjadi perdarahan. Perdarahan dapat juga terjadi disebabkan jauh sebelumnya terjadi kecelakaan, sehingga selaput dara sudah robek.

Mitos 2:

Loncat-loncat setelah berhubungan seks tidak akan menyebabkan kehamilan.

Fakta: Ketika sperma sudah memasuki vagina, maka sperma akan mencari sel telur yang telah matang untuk dibuahi. Kalau terjadi pertemuan dan siap dibuahi, sudah tentu loncat-loncat tidak akan mengeluarkan sperma. Jadi, tetap ada kemungkinan untuk terjadinya pembuahan atau kehamilan.

Mitos 3:

Selaput dara yang robek berarti sudah pernah melakukan hubungan seksual atau sudah tidak perawan lagi.

Fakta: Pengertian di atas harus diluruskan. Memang selaput dara merupakan selaput elastis tipis yang dapat meregang dan robek karena beberapa hal. Selain karena melakukan hubungan seks, selaput dara juga bisa robek karena kecelakaan dalam melakukan olah raga tertentu seperti naik sepeda dan berkuda atau bisa juga karena terjatuh. Karena itu, robeknya selaput dara belum tentu karena hubungan seks. Jadi bisa saja tidak ada kaitan antara robeknya selaput dara dengan hubungan seksual

Mitos 4:

Keperawanan dapat ditebak dari cara berjalan dan bentuk pinggul.

Fakta: Keperawanan tidak bisa dilihat dari bentuk pinggul atau cara jalan. Hanya bisa diketahui melalui hasil pemeriksaan dokter. Jadi hanya dari pemeriksaan khususlah yang memungkinkan diketahuinya selaput dara robek atau tidak, serta kemungkinan penyebabnya.

Mitos 5:

Ada posisi seks yang ampuh mencegah kehamilan, misalnya sambil berdiri atau di dalam air.

Fakta: Tidak ada penelitian yang membuktikan bahwa gaya di atas bisa menahan laju sperma ke saluran telur. Sebaiknya untuk mencegah kehamilan tidak usah melakukan hubungan seksual bagi yang belum berkeluarga. Kalaupun ingin, gunakan kondom, inipun hanya berlaku bagi pasangan yang telah menikah.

Mitos 6:

Hubungan seks memakai kondom itu aman.

Fakta: Aman dari kehamilan dan penyakit menular seks memang betul, asalkan nggak bocor. Masalahnya, siapa yang bisa menjamin kondom seratus persen sempurna? Jadi selalu ada kemungkinan kondom robek, bocor, atau sperma berhasil masuk karena pemakaian yang tidak pas.

Mitos 7:

Hanya saling menempelkan alat kelamin alias petting tidak akan hamil.

Fakta: Kata siapa? Keadaan di atas tidak ada yang bisa menjamin tidak akan terjadi kehamilan. Pada kenyataannya, banyak pria yang sulit mengendalikan diri waktu mendekati ejakulasi. Apalagi kalau cairan bening yang keluar dari penis saat tahap saling rangsang sebenarnya sudah tercampur sel-sel sperma yang lebih dari cukup untuk membuahi.

Mitos-mitos tersebut ternyata memang sudah hidup subur di masyarakat dan pengaruhnya masih sangat kuat, bahkan juga diantara para remaja yang justeru lagi giat-giatnya mencari informasi tentang seks dan kesehatan reproduksi. Hal itu terjadi karena tidak lengkapnya informasi tentang kesehatan reproduksi yang bisa diakses oleh remaja, baik melalui lembaga formal seperti sekolah, keluarga, atau masyarakat pada umumnya.

sumber : http://ariesgoblog.wordpress.com/2010/05/15/mitos-tentang-sex-dikalangan-remaja/

Seks Remaja tidak Selalu Buruk untuk Kinerja Sekolah

Los Angeles -Ada kabar baik bagi orangtua yang khawatir bahwa kehidupan seks remaja akan mempengaruhi kinerja sekolah mereka. Hasilnya: kehidupan seks dan hasil prestasi sekolah belum tentu saling berkaitan.

Sebuah hasil studi baru yang provokatif menyimpulkan remaja yang melakukan hubungan berkomitmen dengan pasangannya tidak lebih baik atau buruk di sekolah dibanding dengan remaja yang tidak berhubungan seks dengan pasangannya.


Para peneliti menemukan fakta bahwa mereka yang memiliki teman kencan kasual mendapatkan nilai lebih rendah dan memiliki masalah yang berhubungan dengan sekolah lebih banyak dibandingkan dengan mereka yang abstain.

Temuan ini disajikan di pertemuan American Sociological Association di Atlanta. Hasil ini menantang beberapa asumsi bahwa remaja yang aktif secara seksual cenderung memiliki prestasi mengecewakan di sekolah.

"Ini tidak begitu banyak apakah remaja yang berhubungan seks menentukan keberhasilan akademis," kata para peneliti.

Namun hubungan seksual yang dilakukan oleh pasangan yang sudah bertunangan, masuk dalam hubungan serius yang pasangnya mendapat dukungan sosial dan emosional. Ini mengurangi kecemasan dan tingkat stres dalam kehidupan sehari-hari dan saat di sekolah.

"Hasil ini harusnya membuat nyaman orangtua yang mungkin prihatin bahwa remaja putra atau putri mereka berkencan," kata sosiolog Peggy Giordano dari Bowling Green State University, yang tidak memiliki peran dalam penelitian. "Seks remaja tidak akan menjatuhkan perjalanan pendidikan mereka," katanya.

Tahun lalu, hampir setengah dari siswa SMA dilaporkan melakukan hubungan seksual, dan 14% memiliki empat atau lebih pasangan. Ini hasil survei negara bagian di AS yang dirilis musim panas ini.

Untuk penelitian ini, sosiolog Davis Bill McCarthy dari University of California, dan sosiolog Eric Grodsky dari University of Minnesota menganalisis survei dan transkrip sekolah nasional terbesar sebagai studi tindak lanjut remaja yang dimulai pada tahun akademik 1994-1995.

Para peneliti mengatakan tidak banyak yang berubah dalam hal saat remaja pertama kali berhubungan seks atau sikap terhadap seks remaja di dekade terakhir.

sumber : http://www.inilah.com/news/read/gaya-hidup/2010/08/16/746171/seks-remaja-tidak-selalu-buruk-untuk-kinerja-sekolah/